Senin, 28 November 2011

Surau Dagang Imam Bonjol

Surau Dagang Imam Bonjol adalah sebuah Musholla yang terletak di Kel.Sei Binti, Kec Sagulung Kota Batam.
Musholla ini berdiri sejak tahun 2009. Dan diberi nama SURAU DAGANG IMAM BONJOL. Surau ini sangat giat melaksanakan syi'ar agama Islam, dan juga melaksanakan kegiatan Tarekat dengan mengikuti Tarekat Naqsabandiyah yang dibawa dan dikembangkan oleh seorang ulama besar dizamannya yaitu Syekh Maulana Ibrahim Al Khalidi Kumpulan. Yang sekarang tetap dilanjutkan oleh para pengikutnya dan sudah berkembang pesat diseluruh pelosok Nusantara.

Tarekat Naqsabandiyah yang dibawa oleh Syekh Maulana Ibrahim Al Khalidi berpusat di sebuah desa yaitu desa Koto Tuo Kumpulan, Kec Bonjol, KabPasaman, Sumatera Barat.
Sampai saat sekarang sudah ribuan umat muslim yang mengikuti tareqat Naqasabandiyah.
Surau Dagang Imam Bonjol Batam telah ditunjuk oleh Pimpinan atau Mursyid Tareqat Naqsabandiyah yang berpusat di Surau Tinggi Koto Tuo Kumpulan Sumatera barat, ditetapkan sebagai salah satu Surau tempat Pelaksanaan Tarqat Naqsabandiyah Al Khaliyah untuk daerah Batam.
Alhamdulillah, sampai saat ini telah banyak umat Muslim dan Muslimat batam yang melakukan atau masuk dan bertariqat di Surau Dagang Imam Bonjol.
Pada Setiap Senin malam dan kamis malam para pengikut Tareqat Naqsabandiyah selalu melakukan tawajuah bersama bagi yang telah ikut bertariqat.

NINDA PRATAMA VRIESINDO - BATAM: QC MANAGER - BATAM

NINDA PRATAMA VRIESINDO - BATAM: QC MANAGER - BATAM

Surau Batu, Pusat Penyebaran Tariqat Naqsabandiyah di Pasaman

Abu Bakar Tuanku Saidina Ibrahim (dua dari kiri), penerus Tariqat Naqasyabandiah  Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi   dimakamkan di  di sebelah Barat Mihrab Surau Batu, sesuai wasiatnya sebelum meninggal dunia. Setelah meninggal dunia, banyak warga berziarah ke kuburan tersebut. Tak hanya dari Pasaman peziaran juga banyak dari daerah lain seperti Riau, Madina, bahkan dari Malaysia. 

Kini di kuburan Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi, masyarakat memasang  kelambu putih dan kain warna hijau kesuakaan nabi besar Muhammad SAW. Cerita warga sekitar, kuburan Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi   itu semakin hari semakin panjang, sehingga saat ini kuburan itu sekitar tiga meter.

Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi termasuk generasi awal penyebar Tareqat Naqasyabandiah di Minangkabau yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ajaran Islam di Sumbar dan khususnya di Pasaman.  Terbukti dengan Ilmu  yang diajarkan kepada murid seperti nahwu, sharaf, balaghah, mantiq dan tasawuf dan lainnya.   Banyak murid potensial dan mengembangkannya dari generasi ke generasi di daerah murid itu berasal.

Dikatakan H. Abu Bakar Tuanku Saidina Ibrahmi yang telah berusia 71 tahun ini, pada masa akhir abad ke-18 dan 19 M. Kumpulan Kabupaten Pasaman pernah menjadi tempat  pusat  kegiatan politik Tuanku Nan Barampek (Tuanku Nan Hitam, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Khalwat dan Tuanku Nan Gapuak). Maulan Syekh Ibrahim Al-Khalidi turut mendukung gerakan perang paderi bersamaan dengan Tuanku Imam Bonjol.

Dari informasi yang diperoleh Tuanku Imam Bonjol pernah menyuruh Maulana Syekh  Ibrahim Al-Khalidi memasang ranjau  terbuat dari bambu di  Bukit Talang Kenagarian Limo Koto dalam menahan laju pergerakan Belanda setelah benteng si Pisang (perbatasan Agam-Pasaman) direbut Belanda.  

Saat itu Datuk Bagindo dan Bagindo Kali mundur ke Pautan Kerbau Kenagarian Limokoto. 
Kemudian dalam pergerakan   mundur ke Batubandinding. Untuk itulah Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi bersama muridnya pernah membantu dalam perang Paderi berupa ranjau bambu yang diruncingkan dalam tanah.

Murid  Maulana Sykeh Ibrahim Al-Khalidi yang cukup terkenal  dalam mata rantai penyebar  Tareqat Naqsyabandiah di Sumbar yakni, Syekh Syahbuddin dari daerah Tapanuli Sumut, Syekh Ismail dari Pasir Pangaraiyan Riau, Syekh Muhammad Basir dari Lubuk Landur Pasaman, Syekh Hasanuddin dari Bayur Maninjau Agam, Syekh Yunus Tuanku Sasak dari Pasaman.

Selanjutnya, Syekh Abdullah dari Sarasah Talu Pasaman, Syekh Mudo dari Durian Tibarau Kinali Pasaman, Syekh Haji Muhammad Nur dari Baruah Gunung 50 Kota, Syekh Daud dari Durian Gunjo Malampah Pasaman, Syekh Abdul Jabbar dari Kumpulan Bonjol Pasaman, Syekh Ahmad dari Agam, Syekh Muhammad Sa’id dari Bonjol, Syekh Abdurrahman bin Syekh Hussein dari Kuran-Kuran Agam,  Syekh Muhammad Zen Alahan Mati dari Kumpulan Pasaman dan lainnya.

Sekarang penyebaran ajaran tarekat naqsabandiyah yang dibawa oleh beliau Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan sudah sampai di pulau Batam, yang dibawa oleh penerus Beliau sekarang yaitu H Abu Bakar Tuanku Saidina Ibrahim, yang juga telah melaksanakan Tariqat kepada kaum muslim dan muslimat Batam yang dilakukan bertempat di Surau Dagang Imam Bonjol Kp Becek Batam. Dengan melaksanakan Tawajuah 2 x seminggu yaitu pada petang senin dan petang kamis bagi mereka yang telah melaksanakan/masuk tariqat. Yang dipimpin oleh murid Beliau yang juga menjadi Imam Surau Dagang Imam Bonjol Batam yaitu Ustads Danil.

Kekeramatan / Keistimewaan yang dimiliki oleh Beliau.
Layaknya ulama-ulama besar dan yang ahli sufi lainnya,  Maulana  Syekh Ibrahim Al-Khalidi  termasuk memiliki keramat atau kesitimewaan yang menjadi buah bibir masyarakat hingga saat ini. Diantaranya,  Maulana  Syekh Ibrahim Al-Khalidi menggariskan tongkat  ketika banjir di negeri Talu (Pasaman Barat, red), sehingga air banjir itu menjadi surut ketika itu juga. Kemudian hilang lenyapnya tulisan-tulisan buku seorang sarjana Inggris yang hendak mendebat Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi   dalam masalah Tasawwuf.

Selain itu, memadamkan api negeri Mekkah sewaktu negeri Mekkah terbakar, ketika itu Maulana  Syekh Ibrahim Al-Khalidi sedang bercukur rambut dan baru setengah yang siap dicukur. 

Minggu, 16 Januari 2011

Sejarah Imam Bonjol


RIWAYAT RINGKAS IMAM BONJOL


Imam Bonjol adalah seorang Ulama Sufi Tasawuf, berkelahiran di Kampung Alai Bonjol, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

Dikenal oleh Ulama Tarikat dan masyarakat Muslim Bonjol dengan Nama Syekh Said Padang Bubus, karena Beliau berumah tangga di Dusun Padang Bubus Bonjol.

Kelahiran Beliau jauh sebelum Tuanku Imam Bonjol.
Sehingga sampai saat generasi sekarang, tidak mengetahui tahun kelahiran Beliau serta kedua orang tua beliau.

Masyarakat luas mengetahui, bahwa beliau pernah belajar agama Islam dan Tarekat suluk selama 40 tahun di Mekkah.

Beliau mempunyai seorang murid yang mashur ( murid tunggal ) yaitu Syekh Maulana Ibrahim Kumpulan, yang dikenal dengan sebutan Inyiak Suaru Batu Kumpulan.

Dalam Usia yang sangat lanjut sekembalinya Beliau dari Mekkah, Beliau bertemu dengan Tuanku Imam Bonjol. Beliau dan Tuanku Imam Bonjol secara bersama-sama menggerakan perang Paderi tahun 1825 s/d 1837  melawan penjajahan Belanda dan kaum adat, guna menegakan Agama Islam di Bumi Minang kabau.

Setelah penangkapan Tuanku Imam Bonjol oleh penjajah Belanda dan dibuang ke Manado.
Beberapa tahun kemudian beliau wafat. Tanggal dan tahun wafat beliau tidak dicatat sehingga tidak diketahui oleh Generasi sekarang.

Selama hidup Beliau mewariskan ajaran :

  1. Syaria’at
  2. Tarekat Naqsabandiyah
  3. Suluk / Khalwat
  4. Hakikat
  5. Makrifat

Konon dimasa Beliau mengajar Agama, Beliau ditemui oleh seorang Ulama besar pada masanya yaitu Syekh Burhanuddin dari Ulakan Pariaman. Kemudian Syekh Burhanuddin tinggal bersama Beliau dan mengajarkan Agama Islam selama 5 tahun bersama-sama kepada masyarakat Bonjol dan masyarakat lainnya yang datang untuk belajar agama kepada Beliau.

Demikianlah sejarah ringkas dan singkat tentang Imam Bonjol yang terkenal dengan nama Inyiak Padang Bubus.

Untuk kedepannya kami tengah berusaha mencari fakta dan sejarah Riwayat beliau untuk bisa diketahui oleh generasi sekarang.

Batam, 5 Januari 2011

Diceritakan kembali oleh : Tuanku Saidina Abdul Rakhman
Dari Surau Tinggi Kumpulan

Ditulis oleh : Pengurus Surau Dagang Imam Bonjol Batam